Seputar Puasa Orang Sakit, Pingsan, Hamil dan Menyusui (3)

imagesCATK93YHMasalah Keempat: Seputar Puasa Orang Sakit

  • Orang sakit yang diharapkan kesembuhannya ada tiga keadaan yaitu:
  1. Tidak memberatkan dan membahayakanya saat berpuasa, maka wajib baginya berpuasa karena tidak ada sebab yang membolehkan dia berbuka.
  2. Memberatkan tapi tidak membahayakannya saat berpuasa, maka boleh baginya berbuka, berdasarkan firman Allah ,,“Barang siapa yang sakit atau safar (boleh baginya berbuka) kemudian hendaklah dia mengqodho’nya di hari yang lain”. (QS. Al-Baqorah:185). Dan makruh hukumnya jika ia berpuasa karena ia di anggap menyiksa diri.
  3. Membahayakan dirinya jika berpuasa, maka wajib baginya untuk berbuka dan haram baginya berpuasa. Berdasarkan firman Allah . “Janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri sesungguhnya Allah maha penyayang terhadap kalian”.(QS. An-Nisa’:29).

- Orang yang menderita sakit lantas ia tidak berpuasa di bulan Romadhon, sementara ia menunggu kesembuhan agar bisa mengqodho’nya, kemudian tampak baginya bahwa sakitnya itu tidak diharapkan kesembuhannya, maka yang wajib baginya adalah memberi makan untuk setiap harinya satu orang miskin. Adapun apabila orang sakit sembuh pada tengah hari, maka hukumnya seperti hukum orang musafir yang datang pada tengah hari (dalam keadaan berbuka), maka boleh baginya tidak berpuasa, tetapi wajib baginya mengqodho’ hari tersebut.

- Apabila seorang dokter yang terpercaya menyatakan bahwa, jika dia berpuasa akan menyebabkan dia sakit atau memperlambat kesembuhannya, maka boleh baginya berbuka untuk menjaga kesehatannya kemudian mengqodho’nya apabila kekhawatirannya hilang.

- Barangsiapa yang menunggu kesembuhan dari sakit (yang diharapkan kesembuhannya) kemudian meninggal sebelum sempat mengqodho’nya, maka tidak ada kewajibiban apapun  atasnya dan juga para walinya.

- Barang siapa sakitnya menahun kemudian dia berbuka (kerena tidak sanggup berpuasa) lalu memberi makan kepada orang miskin. Kemudian seiring dengan perkembangan zaman dan ilmu kedokteran diketahui bahwa sakitnya bisa disembuhkan dengan mengkonsumsi obat tertentu, kemudian diapun mengkonsumsikannya ternyata sembuh dengan izin Alloh, maka tak ada masalah berkenaan dengan apa yang dia lakukan di masa lalu.

Masalah Kelima: Seputar Puasa Orang Pingsan.

  1. Apabila puasa bisa menyebababkan ia pingsan, maka boleh baginya berbuka dan wajib mengqodho’nya jika masalah tersebut sudah hilang.
  2. Apabila pingsan di siang hari kemudian sadar sebelum matahari terbenam atau sesudahnya, maka puasanya sah selama di pagi harinya dalam keadaan berpuasa. Apabila pingsan dari terbit fajar sampai magrib (terbenam matahari) menurut pendapat mayoritas para ulama puasanya tidak sah.
  3. Adapun berkenaan dengan qodho’ orang yang pingsan. Wajib baginya mengqodho’ puasa (jika sudah sadar) menurut pendapat mayoritas para ulama secara mutlak.  Adapun sebagian ulama yang lain berpandangan bahwa kalau pingsan lebih dari tiga hari maka tidak ada qodho’ baginya, karena dianggap kondisinya sama seperti orang gila.
  4. Dan barangsiapa meninggal dunia di pertengahan bulan Romadhon, maka tidak ada kewajiban apapun atasnya juga para walinya berkenaan dengan sisa bulan tersebut.

Masalah Keenam: Seputar Puasa Wanita Yang Sedang Haid.

- Diharamkan bagi wanita yang sedang haid untuk berpuasa. Jika ia tetap melakukannya, maka  tetap puasanya tidak sah bahkan berdosa.

- Apabila ia melihat darah haid sekalipun menjelang terbenamnya matahari, maka batallah puasanya dan wajib baginya mengqodho’ puasa hari tersebut, jika ia sedang puasa wajib.Dan apabila ia suci dari haid menjelang terbitnya fajar, maka wajib baginya berpuasa.  

- Boleh hukumnya bagi yang telah suci dari haid untuk menunda atau mengakhirkan mandinya sampai setelah terbit fajar. Sebagaimana halnya orang yang berjunub, berdasarkan perkataan ‘Aisyah : “Nabi  pernah kesiangan sedang dia dalam keadaan junub karena jima’ bukan karena mimpi, kemudian beliau berpuasa”.(HR. Bukhari dan Muslim)

- Jika seorang wanita merasakan akan keluar darah haid, akan tetapi darah tersebut belum terlihat kecuali setelah terbenam matahari, maka puasanya tetap sah.

- Wanita yang tahu bahwa kebiasaannya (masa haid) akan datang di esok hari, maka hendaklah baginya meneruskan niatnya untuk berpuasa dan tidak boleh berbuka sampai dia melihat darah haid.

-Yang terbaik bagi wanita adalah tidak mengkonsumsi sesuatu (tentunya yang tidak membahayakan) yang dapat menghalangi datangnya haid sebagaimana halnya isteri-isteri Nabi  yang mulia dan para wanita salafus sholih. Namun apabila ia mengkonsumsikannya lantas dapat menghalangi keluarnya darah haid, maka tidak apa-apa dan sah puasanya.

- Apabila ibu hamil keguguran sedang janinnya sudah mulai berbentuk manusia, maka ia adalah nifas (darah yang keluar disebabkan melahirkan), maka secara otomatis tidak berpuasa. Tapi jika tidak (seperti yang telah disebutkan) berarti itu darah istihadhoh (darah penyakit) dan wajib baginya berpuasa jika mampu.

- Hukum wanita yang telah melahirkan sama hukumnya dengan wanita yang haid. Apabila si ibu bayi suci sebelum empat puluh hari, maka wajib baginya berpuasa dan mandi untuk sholat. Tapi jika darah keluar lagi setelah itu sementara masih kurang dari empat puluh hari, maka darah tersebut masih dianggap sebagai darah nifas, dan ia harus menghentikan puasanya. Namun jika darah tersebut keluar pada waktu sudah melebihi empat puluh hari, maka hendaklah ia niat untuk berpuasa. Adapun darah yang masih keluar (setelah 40 hari) dianggap darah istihadhoh, kecuali jika bertepatan dengan hari haidnya, maka darah tersebut dianggab darah haid.

Masalah Ketujuh: Seputar Puasa Ibu Hamil dan Menyusui.

- Apabila ibu hamil dan yang menyusui khawatir akan dirinya saja, atau khawatir akan anaknya saja atau dirinya dan anaknya, maka dibolehkan bagi keduanya berbuka dan mengqodho’ sebanyak hari ia berbuka. Berdasarkan sabda Nabi :“Sesungguhnya Allah meringankan bagi musafir puasa dan setengah sholat (yang empat rokaa’t) dan bagi ibu hamil dan yang menyusui puasa”. (HR. At-Tirmidzi).

- Barangsiapa yang perlu berbuka guna menjauhkan atau menghindarkan bahaya dari orang lain seperti menyelamatkan jiwa yang ma’sum (terpelihara) dari kebakaran, tenggelam, reruntuhan atau semisalnya, maka dibolehkan baginya berbuka.

- Namun apabila tidak bisa dilakukan hal itu kecuali dengan berbuka, maka wajib baginya berbuka saat itu dan mengqodho’nya pada hari yang lain. Begitu juga halnya para mujahidin di jalan Alloh, apabila mereka perlu berbuka (agar lebih kuat), maka boleh bagi mereka berbuka dan mengqodho’ puasa yang ditinggalkannya.

- Setiap orang yang dibolehkan untuk berbuka, tidaklah mengapa kalau berbuka dengan terang-terangan selama sebabnya nampak seperti sakit. Tetapi jika sebabnya tersembunyi seperti haid hendaknya tidak berbuka secara terang-terangan karena dikhawatirkan ada yang berburuk sangka dan menjadi fitnah bagi orang yang tidak tahu, lalu mereka menganggap bahwa boleh berbuka tanpa ‘uzur atau halangan.

 Bersambung…

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s